Pengertian Surat Dakwaan dan Macam-Macam Surat Dakwaan

Posted by Sumber Ilmu Hukum on Rabu, 18 Desember 2019

Loading...

Sesuai dengan ketentuan yang diatur pada Pasal 14 huruf d KUHAP, maka salah satu wewenang Penuntut Umum adalah membuat surat dakwaan. Surat dakwaan sangat penting dalam hukum acara pidana Indonesia karena hakim dalam menjatuhkan putusan harus berdasarkan dakwaan dari Penuntut Umum.

Penuntut Umum wajib untuk menyusun surat dakwaan jika menganggap hasil penyidikan telah cukup untuk dilakukan penuntutan. Oleh karena itu, dakwaan menjadi berkas wajib jika Penuntut Umum melimpahkan perkara di pengadilan dengan acara biasa. Surat dakwaan juga yang menjadi acuan bagi hakim dalam memeriksa perkara.

Pengertian surat dakwaan

Di dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana atau KUHAP memang tidak disebutkan secara jelas pengertian dari surat dakwaan.  Akan tetapi, jika kita merujuk pada pasal-pasal yang mengatur mengenai surat dakwaan di dalam KUHAP, maka kita dapat membuat definisi surat dakwaan.

Berdasarkan ketentuan Pasal 143 KUHAP, maka kita dapat mendefinisikan surat dakwaan sebagai suatu surat yang dibuat oleh Penuntut Umum sebagai salah satu syarat untuk melimpahkan berkas ke pengadilan yang memuat identitas terdakwa serta uraian secara jelas dan cermat mengenai tindak pidana yang didakwakan kepada terdakwa meliputi locus dan tempus delicti serta harus diberi tanggal dan ditandatangani oleh Penuntut Umum.

Macam-macam surat dakwaan

Dalam praktek peradilan pidana dikenal berbagai macam surat dakwaan. Hal ini disebabkan karena pada kenyataannya, terdakwa bisa saja melakukan lebih dari satu tindak pidana. Terdakwa bisa saja melakukan perbuatan pidana yang tergolong dalam concursus idealis (Pasal 63 KUHP), concursus berlanjut (Pasal 64 KUHP) ataupun concursus realis (Pasal 65 KUHAP).

Jika terdakwa hanya melakukan satu tindak pidana, maka pasti akan didakwa dengan dakwaan tunggal. Jika dalam satu perbuatan pidana melanggar dua ketentuan pidana (concursus idealis), maka penuntut umum biasanya akan mengajukan dakwaan subsideritas. Jika kejahatannya berbeda-beda, maka dakwaannya biasanya dakwaan kumulatif atau bahkan dakwaan kombinasi. Selain itu dikenal juga dakwaan alternative, jika penuntut umum merasa terdakwa melakukan tindak pidana yang bisa didakwa dengan dua pasal berlainan jenis.

Dakwaan tunggal

Bentuk dakwaan tunggal adalah dakwaan paling sederhana. Penuntut umum membuat dakwaan tunggal jika yakin bahwa terdakwa hanya memenuhi unsur dakwaan tunggal tersebut dan tidak perlu didakwakan dengan dakwaan lain. Di dalam dakwaan tunggal, terdakwa hanya didakwa dengan satu pasal saja. Misalnya, dalam perkara pencurian, maka jika Penuntut Umum yakin bahwa terdakwa melakukan pencurian (Pasal 362 KUHP), maka terdakwa langsung didakwa dengan dakwaan tunggal. Karena dakwaan dibuat dalam dakwaan tunggal, maka Majelis Hakim yang memeriksa perkara hanya mempertimbangkan unsur-unsur dalam pasal yang didakwakan dalam dakwaan tunggal tersebut.

Dakwaan alternatif

Dakwaan alternative yaitu dakwaan yang terhadap terdakwa didakwakan beberapa tindak pidana, yang masing-masing berbeda uraian fakta tetapi berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Biasanya dakwaan alternative dibuat karena perbuatan pidana yang dilakukan Terdakwa dianggap melanggar dua ketentuan dalam KUHP.

Contoh dakwaan alternative yang banyak terjadi misalnya pada perkara penganiayaan. Biasanya terdakwa didakwa dengan dakwaan alternative Pasal 351 KUHP atau Pasal 171 ayat (1) KUHP. Ciri khas dakwaan alternative adalah ada kata “ATAU” yang memisahkan dua uraian fakta.

Terhadap dakwaan alternative, maka Majelis Hakim hanya perlu mempertimbangkan satu pasal saja. Majelis hakim hanya perlu mempertimbangkan pasal yang unsur-unsurnya diyakini telah terpenuhi.

Dakwaan subsideritas

Dakwaan subsidaritas yaitu dakwaan yang dirumuskan secara bertingkat , mulai dari tindak pidana yang terberat sampai yang teringan ancaman pidananya. Biasanya dakwaan ini disusun jika perbuatan terdakwa dianggap melanggar dua pasal yang masih dalam rumpun yang sama.

Contoh dakwaan subsideritas, misalnya dalam perkara pembunuhan, terdakwa biasanya didakwa dengan dakwaan primer Pasal 340 KUHP dan subsider pasal 338 KUHP. Dakwaan terberat disusun paling atas dan diikuti dakwaan dengan ancaman hukuman yang lebih ringan.

Ciri khas dakwaan subsideritas adalah adanya kata “Primer dan subsider” dalam dakwaannya.

Pada contoh di atas, Pasal 340 KUHP adalah pembunuhan berencana yang diancam dengan hukuman mati. Sedangkan Pasal 338 KUHP adalah pembunuhan biasa dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Terhadap dakwaan subsidairitas, maka majelis hakim harus membuktikan dakwaan primer terlebih dahulu. Jika  dakwaan primer telah terbukti maka dakwaan subsidernya tidak perlu dibuktikan. Akan tetapi, jika dakwaan primer tidak terpenuhi, maka dakwaan subside harus dibuktikan. Jika ternyata baik dakwaan primer maupun dakwan subside tidak terpenuhi, maka terdakwa haruslah diputus bebas.

Dakwaan kumulatif

Dakwaan kumulatif, yaitu terhadap terdakwa yang didakwakan beberapa tindak pidana secara serempak yang masing-masing berdiri sendiri. Dakwaan kumulatif disusun jika Penuntut Umum menganggap delik yang dilakukan oleh terdakwa lebih dari satu dan berbeda-beda satu sama lainnya.

Contohnya, jika terdakwa melakukan pencurian, satu bulan kemudian melakukan penipuan, lalu bulan berikutnya melakukan pembunuhan. Maka oleh karena kejahatan yang dilakukan terdakwa berbeda-beda, dan Penuntut Umum yakin bahwa terdakwa memang melakukan hal tersebut, maka Penuntut Umum akan menyusun dakwaan secara kumulatif.

Berdasarkan contoh tersebut, Penuntut Umum kemudian membuat dakwaan kumulatif sebagai berikut :
Kesatu, Pasal 362 KUHP
Kedua, Pasal 378 KUHP
Ketiga, Pasal 338 KUHP

Jika terdakwa didakwa dengan dakwaan kumulatif, maka untuk Penuntut umum wajib membuktikan seluruh dakwaan yang didakwakan kepada terdakwa tersebut. Jika salah satu dakwaan saja tidak terpenuhi, maka terdakwa dapat dinyatakan bebas.

Dakwaan kombinasi

Dakwaan kombinasi atau dakwaan gabungan adalah dakwaan campuran, baik campuran antara dakwan alternative dan subsideritas, campuran dakwaan alternative dan kumulatif, maupun campuran antara dakwaan subsideritas dan dakwaan kumulatif. Bentuk dakwaan ini sangat kompleks karena Terdakwa melanggar banyak delik.

Contohnya, ada pencurian yang terjadi di dalam satu rumah pada malam hari, di mana terdakwa tidak hanya mencuri tetapi juga melakukan pembunuhan terhadap pemilik rumah. Maka Penuntut Umum bisa saja menyusun dakwaan tersebut dengan dakwaan kombinasi.
Contoh dakwaan berdasarkan Pasal tersebut kurang lebih sebagai berikut :
Kesatu :
Primer : Pasal 340 KUHP (pembunuhan berencana)
Subsidair : Pasal 338 KUHP (pembunuhan Biasa)
Kedua :
Pertama : Pasal 362 KUHP (pencurian biasa)
Atau
Kedua : Pasal 363 KUHP (pencurian berat)

Dakwaan tersebut adalah contoh dakwaan kombinasi antara dakwaan subside dan dakwaan kumulatif. Oleh karena itu baik dakwaan kesatu dan dakwaan kedua harus terbukti masing-masing satu pasal.

  


Loading...
Blog, Updated at: Desember 18, 2019

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel Terbaru